Minangkabau, Ranah nan den Cinto

     Lagi asik main-main sambil ngenet ga jelas, tiba-tiba gw denger ada suara dari kejauhan. Awalnya kurang jelas, tapi setelah beberapa menit kemudian, suaranya terdengar semakin dekat dan jelas. Ternyata itu adalah suara Saluang, alat musik tradisional Minangkabau. Bukan asli suara suliang juga sih, suara ini berasal dari kaset yang sedang diputar. 

     Sumber suara ini adalah dari seorang pedagang minuman keliling di komplek gw. Minuman yang unik, aia aka, yang terbuat dari racikan daun kacang, dan katanya berkhasiat untuk menurunkan demam. Kurang ngerti juga deh hehe, mama gw yang paling ngerti begituan. Nah jadi si pedagang keliling ini emang biasanya selalu muterin kaset-kaset musik tradisonal Minangkabau, kaya musik-musik Saluang, atau Rabab. Tiap kali denger ini, gw kaya berada di zaman Minangkabau duluuuu banget. Kaya lagi berada di kampung-kampung gitu. Pokoknya kalo misalnya gw lagi nonton tv pas si pedagang ini lewat, gw pasti bakal langsung matiin tv nya dan dengerin musik ini dengan seksama, sampe si pedagang jaraknya udah jauh dari rumah gw, dan musik itu ga kedengeran lagi. 

     Tiap dengerin musik ini, rasanya adem banget loh, hehe gatau ya, mungkin karena kecintaan gw sama Ranah Minang (Tanah Minang). Yap, gw ulangi lagi, gw CINTA BANGET SAMA RANAH MINANG, tanah kelahiran gw. Bukan cuma sama "Ranah"nya sih, tapi sama semua hal yang berhubungan dengan Minangkabau.
     
     Jadi, di postingan kali ini gw akan cerita sedikit tentang Minangkabau, tentang sejarahnya, tentang kebudayaannya. Berbekal dengan pengetahuan yang gw dapatkan dari mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) yang gw pelajari mulai dari SD sampe SMP. Jujur, BAM ini susah loh, apalagi kalo pelajarannya udah menyangkut ke masalah pepatah atau puisi adat Minangkabau, yang bahasanya memang bener-bener bahasa kiasan semua, dan sulit dimengerti. Jadi sejarah yang akan gw coba untuk ceritakan ini mungkin ga akan terlalu mendetil, tapi at least sudah menggambarkan lah bagaimana sebenarnya Minangkabau itu :)

                                                                     


     Minangkabau merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia, yang berasal dari Sumatera Barat. Nama Minangkabau sendiri sebenernya berasal dari sebuah sejarah, yang biasanya disebut tambo. Jadi, pada zaman dahulu, pernah sekelompok orang yang berasal dari Pulau Jawa datang ke wilayah Sumatera Barat. Mereka bermaksud ingin memperluas daerah kekuasaan mereka, atau dengan kata lain, mereka ingin memiliki wilayah kerajaan di Sumatera Barat saat itu. Mereka pun menawarkan adu kerbau, yang akan menentukan apakah mereka berhak memiliki daerah ini atau tidak. Awalnya, orang-orang dari kerajaan dan juga penduduk sempat khawatir, mengingat kerbau-kerbau yang dibawa pasukan Jawa ini besar-besar. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kerbau-kerbau di sana. Akhirnya diadakanlah sebuah rapat untuk merundingkan hal tersebut. Kemudian muncullah sebuah ide dari seorang kaum cendekia. Ide yang cukup cemerlang. Dan dengan kesepakatan bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk menerima tawaran orang Jawa tersebut. 

     Singkat cerita, tibalah saatnya hari adu kerbau yang telah direncanakan sebelumnya. Kerbau dari Jawa adalah seekor kerbau betina yang sangat besar, serta terlihat kuat dan hebat. Sementara kerbau dari SumBar, adalah kerbau kecil yang ternyata hanyalah seekor anak kerbau. Namun, di tanduk kerbau kecil ini, sudah dipasangkan besi kecil yang tajam, yang oleh penduduk setempat disebut Minang. Jadi, si kerbau kecil ini ternyata sudah dikurung beberapa hari dan tidak diberi makan ataupun susu dari induknya. Sehingga, saat hari H, kerbau ini terlihat sangat kelaparan. Ketika melihat lawannya yang merupakan kerbau betina, kerbau kecil ini sangat bersemangat dan bermaksud ingin menyusu. Malang bagi si kerbau Jawa, karena pada tanduk kerbau kecil terdapat besi, perutnya pun menjadi terkoyak saat kerbau kecil ini berusaha untuk menyusu. Hingga akhirnya kerbau betina ini mati, dengan keadaan perut yang sudah koyak. 

     Akhirnya, kerbau dari Sumbar pun menang, dan dari sinilah berawal nama Minangkabau, yang artinya kurang lebih "besi kecil si kerbau", yang telah menghantarkan rakyat pada saat itu kepada kemenangan.

                                                                     
    
  Di Minangkabau terdapat beberapa macam suku, atau kalau di daerah Sumatera Utara disebut sebagai Marga. Suku-suku kecil ini berawal dari dua orang Datuk besar pada masa kerajaan lampau, yaitu Datuak Parpatiah nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan. Kedua datuak ini disebut memiliki sifat yang sangat berbeda. Datuak Parpatiah Nan Sabatang memiliki sifat yang sarif dan bijaksana, selalu melibatkan rakyat dalam mengambil setiap keputusan. Sementara Datuak Katumangguangan memiliki sifat keras. Semua keputusan berasal dari penguasa. Dt. Parpatiah nan Sabatang bersuku Bodi Chaniago, sedangkan Datuak Katumangguangan bersuku Koto Piliang. 

     Dua suku besar inilah yang terbagi-bagi menjadi beberapa suku kecil, yaitu suku Bodi, suku Chaniago, suku Koto, suku Piliang,  suku Sikumbang, suku Guci, dan masih banyak suku-suku lainnya (FYI, suku gw adalah Piliang). Orang-orang dengan suku yang sama, disebut memiliki pertalian darah, dan pasangan yang memiliki suku yang sama, tidak diizinkan untuk menikah. Namun dalam kenyataannya, peraturan ini dipersempit lagi, yaitu pasangan sesuku namun berlainan datuak (pemimpin dalam nagari) diizinkan untuk menikah.
     
     Satu hal yang menarik tentang Minangkabau, garis keturunan berasal dari Ibu, atau yang biasa disebut Matrilineal. Hal ini jelas berbeda dengan yang terdapat pada suku-suku lainnya di Indonesia. Sistem matrilineal ini juga terdapat di Negeri Seremban (Malaysia) dan Madagaskar. Namun hal ini sebenarnya adalah karena banyak orang-orang Minang yang merantau ke dua daerah ini, dan meneruskan sistem yang terdapat di kampung mereka ka daerah rantau.


     Berbicara tentang wisata, Bukittinggi merupakan pusat kota Wisata yang ada di Sumatera Barat. Ada banyak tempat wisata seperti Jam Gadang, Lobang Jepang, Ngarai Sianok, dan berbagai tempat wisata lainnya yang terdapat di kota Bukittinggi. Hawanya yang sejuk, serta kulinernya yang benar-benar menggugah selera, semakin menarik wisatawan-wisatawan baik dalam maupun luar Negeri untuk berkunjung ke Bukittinggi.




     Dan ya, gw sangat-sangat cinta kepada Minangkabau, suku gw, kepada Bukittinggi, kota asal gw. Kemanapun gw merantau nantinya, gw pasti akan selalu ingat kampung gw tercinta ini :)


     Sebagai sentuhan akhir (ceilah) berikut gw berikan lirik dari salah satu lagu tradisional Minangkabau, judulnya Minangkabau.

 

Minangkabau, ranah nan den cinto
Pusako bundo nan dahulunyo
Rumah Gadang, nan sambilan ruang
Rangkiang balirik di halamannyo
Bilo den kana, hati den taibo
Tabayang-bayang, di ruang mato

7 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. waah, seru mak, jadi tau tentang minang kabau.. :D

    Kata temen gua: waduh, banyak amat tulisannya, bakat nulis nih orang yak..

    ReplyDelete
  3. hehehe makasih kaaak :D

    wogh kepanjangan yak? haha ini juga udah susah buat membuatnya singkat. masih banyak hal tentang minangkabau yang belum diceritain disini :p

    ReplyDelete
  4. Gak kepanjangan kok, tulisan - tulisan gw malah lebih panjan pan yak?
    mungkin gara2 kesannya penuh banget kali, coba liat deh. Kalo dipotong perparagrafnya lagi, mungkin lebih enak dilihatnya.. hehe.. ini cuma opini dari gw yak.. hahah

    Life is too short to be cool, so be weird, be silly,be yourself.. Akuinianeh

    ReplyDelete
  5. Setuju ama kak angga! Kesannya kepenuhan gitu sa haha

    ReplyDelete
  6. sip sip. saran teman2 diterima. makasih yaaa :D

    ReplyDelete
  7. Link download lagu "mingangkabau tanah nan den cinto" nyo ado ndak kaak???

    ReplyDelete

Powered by Blogger.